INASGOC dan PMPI Targetkan Juri Lokal Modern Pentathlon Raih Sertifikat Internasional

PRESS RELEASE

Perhelatan test even cabang olahraga modern pentathlon “Road to Asian Games 2018” yang dihadiri technical delegate dari Modern Pentathlon Association of Asia (MPAA) benar-benar dimanfaatkan panpel untuk melatih daripada NTO (National Technical Officer), atau juri lokal agar mampu bertugas secara profesional di ajang Asian Games 2018 mendatang.

 

Dalam test event bertajuk “Im 5uper Athlete”  yang berlangsung 11-12 November di tiga lokasi, Hotel Bumi Wiyata, Depok Mall dan resmi berakhir di Arthayasa Stables Depok, Jawa Barat tersebut, para juri lokal yang berjumlah 88 orang ditargetkan meraih sertifikat Internasional.

 

“Kami mengapresiasi kedatangan TD di test event ini. Lalu, kami terus berkoordinasi dengan INASGOC untuk menggelar kursus NTO (NTO Course) yang akan dibimbing TD maupun ofisial dari federadi internasional (ITO). Kami bersama dua TD dan dua ITO sudah membina 46 NTO untuk level II dan III, dan 42 NTO untuk level I, kami berharap dengan persiapan yang matang para juri lokal dapat bertugas di Asian Games 2018 mendatang,” ujar Nurul Yakin Setyabudi selaku manajer kompetisi.

 

Dalam peraturan modern pentathlon internasional untuk menjadi ketua panitia pertandingan/manajer kompetisi harus bersertifikasi internasional untuk lima disiplin cabang, yakni renang, anggar, berkuda, lari dan menembak. Ketua panitia pertandingan atau manajer kompetisi  harus sudah menempuh pelatihan pada level III Internasional.

 

Untuk itu PB PMPI berupaya menjalin kemitraan strategis dengan Korean Pentathlon Federation guna membina dan membimbing  baik itu melalui pelatihan dan pembinaan terhadap atlet, panpel, dan juri lokal agar mampu bersertifikat Internasional.

 

“Sejak test event pertama yang digelar INASGOC dan PB, kami terus mendorong agar para juri lokal banyak mengambil kesempatan di test event ini dengan belajar banyak. Tentang aturan, cara memimpin pertandingan, dan terus meningkatkan kualifikasinya sehingga akan mendapatkan manfaat dari penyelenggaraan test event atau Asian Games nanti,” jelas Sekjen INASGOC, Eris Herryanto.

Disamping itu, setelah mempertandingkan dua disiplin, renang di 200 meter gaya bebas dan anggar di nomor epee, pada Sabtu (11/11), PB PMPI melanjutkan tiga disiplin lomba lainnya, berkuda nomor jumping, lari jarak 3 km, dan menembak di nomor 10 m rifle.

 

Salah satu nomor yang menarik di modern pentahlon terdapat di pertandingan berkuda. Jika di cabang equestrian nomor jumping, rider menunggangi kuda sendiri yang sudah dikenal lama dan mudah dikontrol, maka di mondern pentahlon, atlet menaiki kuda pinjaman (borrowing horse) yang benar-benar baru ditunggani. Para atlet diberi waktu 20 menit untuk bisa menguasai kuda sehingga mudha dikontrol saat pertandingan.

 

Selain itu, terdapat perbedaan obstacle/rintangan antara test event dan Games time. Jika di test event hanya terdapat 12 rintangan, maka sata pertandingan sesungguhnya akan ada 15 rintangan.

 

Di kejuaraan yang berakhir, Minggu (12/11), juara ditentukan dengan mengakumulasi hasil pertandingan di hari pertama, kemarin. Di kategori putra podium juara diborong atlet TNI AD. Medali emas direbut Yusri dengan total skor 616 poin. Medali perak dan perunggu diraih Dewa Alit (skor 601 poin), dan Ahmad Mulyadi (skor 576 poin).

 

Sedangkan di kategori putri, giliran atlet-atlet modern pentathlon mendominasi. Medali emas diraih Nurainun Perangin Angin dengan total skor, 671 poin. Maharani Azhri Wahyuningtyas (skor 658 poin) dan Niken Angelia Christina (skor 626 poin) mendapat medali perak dan perunggu.

 

Media & Public Relations INASGOC